PORTALREDAKSI.COM, DUMAI — Kondisi Jalan Soekarno-Hatta, Kota Dumai, kian memprihatinkan di tengah berlangsungnya pekerjaan perbaikan pipa bawah tanah milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan perbaikan jalan di kawasan tersebut. Kerusakan permukaan jalan, lubang berukuran besar dan dalam, serta terbatasnya ruang gerak kendaraan menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan.
Untuk mendukung kelancaran pekerjaan, penutupan sebagian ruas jalan dan penerapan rekayasa lalu lintas dengan sistem satu arah yang dibagi menjadi dua jalur dilakukan guna mengatur arus kendaraan masuk dan keluar. Namun, kondisi di lapangan justru memunculkan persoalan baru yang membutuhkan penanganan segera.
Jalur yang semakin sempit tidak hanya digunakan kendaraan pribadi dan sepeda motor milik masyarakat, tetapi juga dilalui kendaraan bertonase berat milik perusahaan. Intensitas kendaraan berat yang melintas di tengah kondisi jalan yang terbatas diduga turut memperparah kerusakan permukaan jalan.
Lubang-lubang besar dan dalam kini menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan. Situasi semakin berbahaya ketika hujan turun, lantaran genangan air menutupi lubang sehingga pengendara kesulitan memperkirakan kedalaman dan kondisi permukaan jalan.
Tanpa penanganan cepat, kondisi tersebut berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara sepeda motor yang harus berbagi ruang dengan kendaraan bertonase besar di jalur yang menyempit.
Persoalan lainnya adalah minimnya petugas pengatur lalu lintas di lokasi. Dalam kondisi jalan yang terbatas, rusak, dan dipadati kendaraan, keberadaan personel pengatur lalu lintas sangat dibutuhkan, khususnya pada malam hari ketika jarak pandang pengendara berkurang.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan pengamanan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung. PT Pertamina Hulu Rokan, kontraktor pelaksana, dan Dinas Perhubungan Kota Dumai perlu memastikan bahwa pekerjaan proyek tidak mengabaikan aspek keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut.
Keluhan juga disampaikan warga dan pengguna jalan yang mengaku khawatir terhadap risiko kecelakaan. Mereka menilai kondisi jalan berlubang yang dipadati kendaraan berat bukan persoalan sepele, melainkan masalah keselamatan publik yang harus segera ditangani.
Safri, salah seorang pengguna jalan yang ditemui awak media saat hendak menyeberang, mengaku takut ketika harus melintasi ruas jalan tersebut.
“Kadang-kadang mau nyebrang jalan aja agak takut awak. Masalahnya jalan tu sempit, dibagi dua pulak. Tambah lagi ada lobang besar dan agak dalam. Apalagi kalau malam hari, lebih membahayakan sebab yang lewat tu banyaknya mobil-mobil bertonase berat,” ujar Safri kepada awak media, Sabtu (24/10/2026).
Warga mendesak PT Pertamina Hulu Rokan, kontraktor pelaksana, dan Dinas Perhubungan Kota Dumai agar tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Mereka meminta lubang-lubang berbahaya segera ditangani, permukaan jalan diratakan sesuai standar keselamatan, serta petugas pengatur lalu lintas disiagakan selama pekerjaan berlangsung.
Selain perbaikan fisik jalan, pengaturan arus kendaraan berat juga perlu mendapat perhatian agar tidak semakin memperburuk kondisi ruas jalan maupun meningkatkan risiko kecelakaan. Drainase dan pengendalian genangan air pun perlu dievaluasi untuk memastikan lubang tidak terus-menerus tertutup air hujan.
Keselamatan pengguna jalan semestinya menjadi prioritas utama dalam setiap pekerjaan infrastruktur. Jangan sampai masyarakat harus menanggung risiko kecelakaan akibat kondisi jalan yang rusak, sementara aktivitas proyek dan mobilitas kendaraan perusahaan tetap berjalan.
Hingga berita ini diterbitkan pada Minggu (25/10/2026), belum terdapat keterangan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai langkah penanganan atas keluhan tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi PT Pertamina Hulu Rokan, kontraktor pelaksana, serta Dinas Perhubungan Kota Dumai guna memberikan penjelasan mengenai kondisi jalan dan upaya yang akan dilakukan. (*)
Penulis: Edo Risky/ Bengs





